Orang yang akan melakukan perjalanan jauh pasti akan menyiapkan perbekalan yang cukup. Lihatlah misalnya orang yang hendak menunaikan ibadah haji. Terkadang ia mengumpulkan harta dan perbekalan sekian tahun lamanya. Padahal itu berlangsung sebentar, hanya beberapa hari saja. Maka mengapa untuk suatu perjalanan yang tidak pernah ada akhirnya –yakni perjalanan akhirat- kita tidak berbekal diri dengan ketaatan ?! Padahal kita yakin bahwa kehidupan dunia hanyalah bagaikan tempat penyeberangan untuk sampai kehidupan yang kekal nan abadi yaitu kehidupan akhirat. Di mana manusia terbagi menjadi: ashabul jannah (penghuni surga) dan ashabul jahim (penghuni neraka).
Itulah hakikat perjalananmanusiaa di dunia ini. Maka sudah semestinya kita mengisi waktu dna sisa umur yang ada dengan berbekal amal kebaikan untuk menghadapi kehidupan yang panjang. Allah berfirman yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr’: 18)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
“Hisablah diri kalian sebelum dihisab, perhatikanlah apa yang sudah kalian simpan dari amal shalih untuk hari kebangkitan serta (yang akan) dipaparkan kepada Rabb kalian.”
(Taisir Al-‘Aliyil Qadir, 4/339)
Umur Bukan Pemberian Cuma-Cuma
Waktu adalah sesuatu yang terpenting untuk diperhatikan. Jika ia berlalu tak akan kembali. Setiap hari dari waktu kta berlalu, berarti ajal semakin dekat. Umur merupakan nikmat yang seseorang akan ditanya tentangnya. Nabi bersabda yang artinya:
“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).”
(HR. At-Tirmidzi dari jalan Ibnu Mas’ud radliyallahu anha. Lihat Ash-Shahihah, no. 946)
Jangan Menunda-nunda Beramal
Mungkin kita sering mendengar orang mengatakan:
“Mumpung masih muda kita puas-puaskan berbuat maksiat, gampang kalau sudah tua kita sadar.”
Sungguh betapa kejinya ucapan ini. Apakah dia tahu kalau umurnya akan panjang ? Kalau seandainya dia ditakdirkan panjang, apa ada jaminan dia akan sadar ? Atau justru akan bertambah kesesatannya ?! Allah berfirman yang artinya:
“Dan tiada yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Luqman: 34)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya angan-angan adalah modal utama orang-orang yang bangkrut.”
(Ma’alim fi Thariqi ‘Ilmi hal. 32)
“Apabila engkau berada di waktu sore janganlah menunggu (menunda beramal) di waktu pagi. Dan jika berada di waktu pagi , janganlah menunda (beramal) di waktu sore. Gunakanlah masa sehatmu untuk masa sakitmu dan kesempatan hidupmu untuk saat kematianmu.”
(HR. Al-Bukhari no. 6416)
Selagi kesempatan masih diberikan, jangan menunda-nunda lagi. Akankah seseorang menunda hingga apabila ajal menjemput, betis bertaut dengan betis, sementara lisanpun telah kaku dan tubuh tidak bisa lagi digerakkan ? Dan ia pun menyesali umur yang telah dilalui tanpa bekal untuk suatu kehidupan yang panjang ?! Allah berfirman menjelaskan penyesalan orang-orang kafir ketika datang kematian.
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap apa yang telah aku tinggalkan. ‘Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.”
(QS. Al-Mu’minun: 99-100)
Umur Umat Ini
Allah telah menakdirkan bahwa umur umat ini tidak sepanjang umur umat terdahulu. Yang demikian mengandung hikmah yang terkadang tidak diketahui oleh hamba. Nabi bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah:
“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70, dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.”
(Dihasankan sanadnya oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari, 11/240)
Maksud dari hadits ini adalah bahwa keumuman ajal umat ini antara umur 60 hingga 70 tahun. Dengan bukti keadaan yang bisa disaksikan. Di mana di antara umat ini ada yang (mati) sebelum mencapai umur 60 tahun. Ini termasuk dari rahmat Allah dan kasih sayang-Nya supaya umat ini tidak terlibat dengan kehidupan dunia kecuali sebentar. Karena umur, badan, dan rizki umat-umat terdahulu lebih besar sekian kali lipat dibandingkan umat ini.
Dahulu ada yang diberi umur hingga seribu tahun, panjang tubuhnya mencapai lebih dari 80 hasta atau kurang. Satu biji gandum besarnya seperti pinggang sapi. Satu delima diangkat oleh sepuluh orang. Mereka mengambil dari kehidupan dunia sesuai dengan jasad dan umur mereka. Namun mereka sombong dan berpaling dari Allah. Sehingga manusia pun terus mengalami penurunan bentuk fisik, rizki, dan ajal.
Sehingga menjadilah umat ini sebagai yang terakhir. Yang mengambil rizki sedikit dengan badan yang lemah dan pada masa yang pendek. Supaya mereka tidak menyombongkan diri. Ini termasuk dari kasih sayang Allah terhadap mereka. Demikian makna ucapan Al-Imam Ath-Thibi rahimahullah seperti dalam Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir (2/15).
Wallahu a’lam.
Selengkapnya...
DAFTAR ISI
Minggu, 20 Februari 2011
Anugerah-Nya yang Terabaikan
Ayah.., Dengarkanlah!
Di antara hal yang tidak diragukan lagi karena memang terjadi adalah bahwa setiap ayah mendambakan anak sebagai buah hati bisa sukses dan berhasil dalam pendidikan dan sekolahnya serta kehidupannya. Karenanya, ayah senantiasa berdo'a kepada Allah agar memberikan kemudahan dan keteguhan bagi anak tercinta. Ayah menjanjikan hadiah dan mengabulkan keinginan si buah hati jika lulus dalam ujian dan memberikan ancaman serta marah jika sampai gagal dalam ujian. Perasaan seperti ini memang merupakan fitrah manusia dan memang terjadi di antara kita.
Akan tetapi wahai Ayah yang penyayang, apakah perhatianmu kepada si buah hati berupa perhatian penuh terhadap sekolah, pendidikan, masa depan dan urusan dunianya itu -karena memang engkau sadar itu adalah kewajibanmu- sama seperti perhatianmu terhadap akhirat mereka? Apakah engkau benar-benar memikirkan dan mengkhawatirkan nasib mereka setelah mati seperti halnya perhatianmu akan kenyamanan dan kebahagiaan hidup mereka sewaktu di dunia? Inilah tanggung jawabmu wahai Ayah. Engkau curahkan semuanya untuk dunia yang fana sementara engkau abaikan akhirat yang kekal selamanya. Engkau sibuk memikirkan kehidupan mereka tapi engkau lupakan keadaan setelah matinya. Engkau bangun bagi mereka rumah dari tanah, batu dan bata di dunia tapi engkau haramkan mereka untuk mendapatkan rumah di akhirat yang indah bertatahkan intan permata.
Itulah keinginanmu! Itulah angan-anganmu! Semuanya tidak lebih dari agar anak-anakmu bisa jadi dokter, insinyur, pilot ataupun tentara. Ya Allah! Semuanya itu hanya cita-cita dunia…..! Engkau berusaha, bekerja membanting tulang dan bersungguh-sungguh hanya untuk dunianya… Mana usahamu untuk akhiratnya wahai Ayah……? Fenomena ini bukanlah sesuatu yang jarang terjadi, bahkan mayoritas manusia demikian adanya. Mereka begitu serius berusaha mempersiapkan segala sesuatunya untuk pendidikan fisik anak-anaknya. Tetapi mereka menelantarkan pendidikan hatinya yang padahal dengannyalah anak-anaknya bisa hidup dan bahagia atau sebaliknya binasa dan sengsara. Inilah kenyataan!
Ayah! Mungkin engkau mengira bahwa ini hanyalah perkataan yang tiada beralasan. Tapi jika engkau ingin bukti maka simaklah wahai Ayah yang penyayang!
Bayangkan atau anggap anakmu terlambat mengikuti ujian di sekolahnya. Apakah yang engkau rasakan wahai Ayah? Bukankah engkau akan berlomba dengan waktu mengantarkan anakmu agar bisa mengikuti ujian meskipun terlambat? Bahkan sebelumnya, bukankah engkau akan rela untuk tidur setengah mata agar bisa membangunkan si buah hati supaya tidak terlambat? Bukankah engkau akan melakukan segalanya agar anak tercinta yang menjadi kebanggaanmu bisa ikut ujian tepat waktu? Saya yakin jawabannya adalah Ya. Bukankah engkau melakukan semua itu wahai Ayah? Akuilah!!
Sekarang, apakah perasaanmu itu sama atau akan muncul juga ketika anakmu terlambat shalat Shubuh? Apakah engkau akan berusaha agar anakmu shalat Shubuh tepat waktu? Saya hanya berprasangka baik bahwa engkau memang shalat Shubuh tepat waktu. Karena jika tidak, bagaimana mungkin engkau akan membangunkan anak-anakmu sementara engkau sendiri terlambat untuk itu?
Kemudian, bukankah engkau setiap hari senantiasa bertanya kepada anakmu tentang sekolahnya? Apa yang dipelajari, apa yang dilakukan, jawaban apa yang diberikan ketika ujian dan berharap jawaban itu benar? Tetapi, apakah setiap hari engkau bertanya juga tentang urusan agamanya? Apakah engkau bertanya sudahkah dia shalat? Dengan siapa dia duduk dan bergaul? Tidakkah engkau bertanya apa yang dia lakukan ketika tidak di rumah, ta'at atau maksiat?
Ayah, bukankah dadamu terasa sesak ketika tahu bahwa si buah hati salah dalam menjawab ujian? Bukankah engkau merasa terhimpit ketika tahu bahwa nilainya jauh di bawah sempurna bahkan rata-rata? Bukankah engkau merasa terpukul ketika tahu bahwa dia gagal dalam ujiannya? Akan tetapi, apakah dadamu juga terasa sesak, dadamu juga terasa terhimpit ketika tahu bahwa anakmu sangat minim dalam menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya terlebih sunah-sunahnya? Tidakkah ini cukup menjadi bukti bahwa engkau lebih dan hanya memperhatikan dunianya dan mengabaikan akhiratnya?
Ayah, engkau mengira apabila anakmu tidak lulus ujian berarti kandas sudah cita-cita dan harapan yang ada. Engkau menyangka bahwa dalam hal itu tidak ada kesempata kedua terlebih ketiga. Ketahuilah wahai Ayah…, bahwa kegagalan yang hakiki…, kegagalan yang memang tidak ada lagi kesempatan kedua atau ketiga untuk memperbaiki, adalah masuknya mereka ke dalam neraka dengan api yang panas menyala-nyala. Tahukah engkau bahwa kegagalan yang hakiki adalah penyesalan dan kerugian yang disertai adzab yang pedih lagi menghinakan? Setelah ini akankah engkau masih beralasan bahwa kita sekarang hidup di dunia sehinga harus fokus memikirkannya? Kalau begitu kapankah engkau akan fokus memikirkan akhirat padahal di akhirat nanti tidak ada lagi amalan yang ada hanyalah pembalasan?
Sungguh wahai Ayah jikalau demikian adanya -kita berlindung kepada Allah darinya- maka tidaklah bermanfaat kesuksesan yang diraih di dunia. Tidaklah bermanfaat ijazah, harta, istana yang megah, kedudukan dan kekuasaan kalau ternyata catatan amal perbuatan diberikan dari arah kirinya. Kemudian mereka akan berteriak:
Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-sekali tidak memberikan manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaannku dariku. (Al-Haqqah: 25-29)
Ah…sungguh tidak bermanfaat kekuasaanku, ilmu duniaku, serta ijazahku. Semuanya telah hilang, semuanya lenyap…yang ada hanyalah kerugian dan kegagalan.
Tahukah engkau apakah kerugian itu? Tahukah engkau apakah kegagalan itu? Ya, di dunia kerugian dan kegagalan itu adalah jika anakmu tidak bisa menjadi dokter, atau insinyur atau pilot dan guru. Akan tetapi di akherat, yang ada hanyalah kebahagiaan atau kesengsaraan. Yang satu berarti surga yang lainnya berarti neraka. Akankah engkau rela membiarkan mereka mengalami kerugian dan kegagalan dalam arti kesengsaraan di dalam neraka?
Saya tidak katakan tinggalkan anak-anakmu! Saya tidak katakan biarkan mereka jangan diajari masalah dunia! Tidak, demi Allah, saya tidak katakan demikian. Saya hanya katakan bahwa akherat lebih utama dan ditekankan untuk diperhatikan, lebih serius untuk diusahakan dan lebih bersunguh-sungguh untuk beramal meraih kebahagiaannya.
Wahai Ayah…! Siapakah di antaramu yang begitu bersemangat bersungguh-sungguh mendatangkan seorang pendidik untuk mengajarkan kepada anaknya Al-Qur'an dan menerangkan As-Sunnah? Sungguh sedikit sekali yang telah berbuat demikian. Alangkah baik kiranya kalau mereka tidak memfasilitasi anak-anaknya dengan sarana kerusakan. Akan tetapi kita lihat justru mereka dengan jeleknya pemikiran dan kurangnya perhitungan malah mendatangkan kejelekan bagi anak-anaknya dengan memfasilitasi dengan kendaraan-kendaraan, sopir pribadi, pembantu (pelayan) serta memenuhi rumahnya dengan barang-barang dan hal-hal yang diharamkan yang melalaikan dari dzikrullah dan ta'at kepada-Nya.
Siapakah di antara kalian wahai Ayah yang memberikan hadiah pada anaknya apabila hafal satu juz dari Al-Qur'anul Karim atau beberapa hadits dari hadits Nabi saw ? Sungguh sangat sedikit sekali yang demikian ini. Kita mohon kepada Allah agar memberkahi yang sedikit ini. Kita lihat sebagian manusia, mereka menjanjikan pada anaknya apabila lulus ujian akan diajak pesiar menyusuri pantai yang indah atau wisata ke mancanegara, apakah Eropa atau Amerika, serta mereka menjanjikan dibelikan mobil agar bebas mengukur jalan. Namun adakah di antara meraka yang menjanjikannya untuk diajak umrah atau haji dan mengunjungi masjid Nabi saw?
Setelah semua itu, tahukah engkau wahai Ayah apakah buah dari hasil pendidikan seperti itu? Tahukah engkau apakah hasil dari pendidikan yang mengabaikan masalah akhirat tersebut? Hasilnya adalah Al-Qur'an berganti menjadi majalah, siwak berganti menjadi rokok dan lebih parah lagi mereka akan hidup tidak ubahnya binatang ternak. Tahukah engkau apa di antara yang membedakan kita dari binatang ternak? Kita diberikan fasilitas untuk mengerti bahwa dunia hanyalah sementara. Kita mengetahui bahwa ada kehidupan yang kekal selamanya. Maka selayaknyalah kita untuk berusaha menggapai kebahagiaan di sana. Tetapi apabila tidak demikian maka tidaklah beda dengan binatang bahkan lebih sesat karena kita diberi fasilitas sedangkan mereka tidak. Mereka seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A'raf: 179)
Di samping memperhatikan pekembangan fisik anak, kita juga harus memperhatikan pendidikan akal dan hati mereka. Kita harus memikirkan nasib mereka setelah matinya.
Langkah pertama untuk itu adalah kita perbaiki terlebih dahulu diri kita, karena dengan baiknya diri kita maka mereka akan ada di atas keteguhan dan kekokohan serta ada di dalam penjagaan Allah swt. Allah berfirman:Ayah mereka berdua adalah orang yang shalih (Al-Kahfi: 82)
Kedua, kita jadikan bimbingan dan pengajaran Islam sebagai tujuan. Tidak ada halangan untuk belajar dan mempelajari ilmu-ilmu dunia akan tetapi tidak sebesar perhatiannya terhadap akhirat. Allah berfirman:Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan nasib (bagian)mu dari (keni'matan) dunia. (Al-Qashash: 77)
Wahai Ayah! Maka takutlah engkau kepada Allah pada apa yang menjadi tanggunganmu karena engkau akan diminta pertanggujawabannya di hadapan Allah. Takutlah engkau kepada Allah bahwasanya Allah telah memberikan anak sebagai amanat kepadamu tapi engkau justru membukakan pintu-pintu kejelekan bagi mereka. Allah mengamanatimu tapi engkau malah menyibukkan mereka dengan film-film, sinetron-sinetron, perangkat-perangkat kekejian, majalah-majalah porno dan semisal dengan itu. Jika demikian adanya berarti engkau telah mengkhianati amanat yang dipikulkan kepadamu dan engkau telah menipu mereka yang menjadi tanggunganmu. Nabi saw bersabda:Tidaklah seseorang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya (tanggungannya) kemudian dia mati dalam keadaan menipu mereka, melainkan Allah haramkan baginya surga. (Bukhari Muslim)
Ayah….! Jika engkau memang sayang pada buah hatimu, tidak ingin menipu mereka dan juga tidak ingin mengkhianati amanat yang dipikulkan di pundakmu, maka kemarilah! Kemarilah untuk sama-sama menyimak wasiat Luqman kepada anaknya. Wasiat seorang ayah yang yang sangat menyayangi anaknya dan menebusnya dengan sangat mahal dan berharga. Tahukan engkau apakah dia mewasiatinya dengan dunia? Apakah dia mewasiatinya dengan intan permata dan segala perhiasan kemewahan lainnya? Tidak, bahkan dia mewasiati anaknya dengan apa yang akan menjadikannya ada dalam kehidupan yang baik. Kehidupan yang akan menyelamatkannya dari adzab Allah yang pedih. Sungguh Allah telah mengabadikannya dalam Al-Qur'an. Pernahkah engkau mendapatinya? Tahukah engkau apakah wasiatnya itu?
Adalah Luqman Al-Hakim dengan kasih sayang yang begitu besar kepada anaknya, dia berwasiat agar jangan berbuat syirik, yakni menyekutukan Allah swt. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, waktu dia memberikan nasihat kepadanya: 'Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah sebesar-besar kezhaliman. (Luqman: 13)
Ya… adakah kezhaliman yang lebih besar dari syirik? Itulah apa yang dikhawatirkan Luqman pada anaknya sehingga mewasiati agar jangan sampai terjatuh ke dalamnya. Adakah engkau pernah menyampaikan ini pada anakmu?
Kemudian, beliau dengan segenap kasih sayangnya menunjukkan pada anaknya apa yang akan menyelamatkan anaknya dari adzab Allah yaitu dengan menghadap kepada-Nya melalui shalat, memerintahkan yang ma'ruf serta mencegah dari yang munkar. Adakah engkau demikian wahai ayah? Saya berharap engkau sudah memenuhi semuanya sehingga hanya tinggal menyampaikannya kepada anakmu. Karena jika tenyata engkaupun belum demikian…maka ini adalah mushibah dari sebenar-benar mushibah, dan kita berlindung darinya.
Setelah itu, Luqman mewasiati anaknya agar berhias dengan akhlaq yang mulia yang akan mengangkat jiwanya dan akan tinggi derajatnya. Janganlah sombong dan menghina sesama. Sederhanalah dalam berjalan dan lunakkanlah suara dalam pembicaraan. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Luqman: 19)
Inilah wahai Ayah, sejumlah wasiat dari ayah yang begitu sangat menyayangi dan mendambakan kebahagian bagi si buah hati. Pernahkah engkau menyampaikannya pada anakmu, sebagiannya atau bahkan seluruhnya..?!
Ada fenomena yang sangat kita sesali dan kita keluhkan semuanya kepada Allah, yakni sebagian ayah berusaha mematahkan semangat anaknya dan menghalangi kesungguhannya ketika melihat bahwa Allah telah memberikan hidayah kepadanya untuk mendalami dan mengamalkan ilmu agama. Bahkan di antara mereka ada yang sampai menghasut dan menakut-nakuti serta menebar was-was. Mereka mengatakan bahwa belajar agama hanya akan mengikat kebebasan jiwa. Mereka juga mencela dan juga memperolok-oloknya, sehingga tidak tahu lagi apakah yang dicela itu adalah orangnya atau agama yang dibawanya. Ketika didapati anaknya memanjangkan janggut maka dikatakan seperti kambing. Ketika anaknya berusaha mengenakan pakaian di atas mata kaki maka dikatakan takut cacing dan lain sebagainya. Maka apakah ini perlakuannmu terhadap apa yang menjadi amanatmu? Apakah ini yang engkau nasihatkan kepada mereka?
Takutlah engkau kepada Allah! Takutlah bahwasanya Allah sentiasa mengawasi bagaimana engkau mendidik mereka. Ajarilah mereka apa yang bermanfaat baginya dari urusan agama dan dunianya. Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya!(Al-An'am:32)
Ayah….! Engkau telah menyiapkan anakmu untuk menghadapi ujian dunia. Maka takutlah kepada Allah dan ketahuilah olehmu serta beritahukanlah kepada anak-anakmu bahwa barang dagangan Allah (surga) jauh lebih berharga dan lebih mahal dari perhiasan dunia. Dan ajarkanlah serta beritahukanlah mereka bahwa kesuksesan yang hakiki ada pada membatasi diri pada apa yang Allah ridlai. Beritahukanlah kepada mereka dan ketahui olehmu juga bahwa kebahagiaan yang hakiki ada pada taqwa dan ta'at kepada Allah.
Serta ketahuilah olehmu bahwa kaki seorang hamba tidak akan bergeser sejengkalpun dari posisinya pada hari kiamat dan akan diadukan kezhalimannya oleh orang yang pernah dizhaliminya. Anak akan senang bisa mendapatkan ayahnya untuk mengadukan kezhaliman yang pernah dilakukannya, demikian juga istrinya. Pada hari kiamat nanti anak-anak akan membantah dan menyalahkan ayah-ayah mereka dengan berkata: Wahai Rabb kami, ambil lah hak kami pada ayah kami yang zhalim ini. Dia telah menyebabkan kami tidak melakukan apa yang Engkau ridlai. Dialah yang telah mendidik kami tidak ubahnya binatang ternak. Dialah yang mendatangkan berbagai hal yang membinasakan dan tidaklah ada satu kerusakan melainkan didatangkannya ke hadapan kami. Maka apakah yang nanti akan engkau katakan untuk menjawab semuanya itu wahai Ayah yang penyayang, yang begitu sayangnya sehingga menjerumuskan anaknya pada kebinasaan? Bahkan pada akhirnya nanti sama-sama ada dalam kebinasaan.
Yaitu pada hari dimana tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Asy-Syu'araa': 88-89)
Maka di manakah hartamu? Di manakah anak yang engkau banggakan itu? Mereka justru menyalahkanmu dan menyeretmu untuk ikut merasakan panas neraka karena engkaulah yang punya andil besar untuk itu.
Kita berlindung kepada Allah dari semua itu dan memohon agar Allah menunjukkan kita kepada kebaikan dan memberikan kekuatan dan kemudahan untuk menempuhnya serta dimatikan di atasnya, serta kita memohon kepada-Nya agar menyelamatkan kita, keluarga serta anak keturunan kita dari adzab-Nya yang pedih. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Terakhir wahai Ayah! Bertaqwalah engkau kepada Allah. Takutlah Engkau kepada-Nya pada apa yang engkau lakukan untuk anakmu. Perbaikilah pendidikan mereka! Jagalah mereka dari segala kerusakan dan kealpaan dalam segala kebaikan. Lakukanlah sejak sekarang selama mereka masih ada di hadapan kalian. Selama kalian masih bisa bersungguh-sungguh mengusahakan. Lakukanlah segera sebelum kalian hanya bisa melakukan celaan dan penyesalan yaitu pada hari dimana tidak akan bermanfaat lagi celaan dan penyesalan. Dan Allah lah tempat kita meminta perlidungan dan pertolongan.
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allah lah pahala yang besar. (At-Thagaabun: 15)
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim: 6)
*Ditulis oleh salah seorang ikhwan -semoga Allah membalasnya dengan surga Firdaus-
[Kontributor : Umar Munawwir, 07 Agustus 2002 ]
Selengkapnya...
50 Manfaat doa dan dzikir (mengingat Allah)
Manfaat doa dan dzikir banyak sekali, bisa mencapai seratus lebih. Kami sebutkan sebagian diantaranya:
Mendatangkan keridaan Allah swt
Mengusir syaitan, menundukkan, dan mengenyahkannya
Menghilangkan kesedihan dan kemuraman hati
Mendatangkan kegembiraan dan ketenteraman hati
Menguatkan hati dan badan
Membuat hati dan wajah berseri
Melapangkan rizkiMenimbulkan kharisma dan percaya diri
Menumbuhkan rasa cinta yang merupakan ruh Islam, menjadi inti agama, poros kebahagiaan dan keselamatan. Dzikir merupakan pintu cinta, dan jalan untuk itu sangat agung dan lurus
Menumbuhkan perasaan bahwa dirinya diawasi Allah, sehingga mendorongnya untuk selalu berbuat kebajikan. Dia beribadah kepada Allah dan Allah melihat dirinya secara langsung. Tetapi orang yang lalai untuk berdzikir tidak akan sampai kepada kebajikan, sebagaimana orang hanya duduk saja tidak akan sampai ke tempat tujuan
Membuahkan ketundukan, yaitu berupa kepasrahan diri kepada Allah dan kembali kepada-Nya. Selagi dia lebih banyak kembali kepada Allah dengan cara menyebut asma-Nya, maka dalam keadaan seperti apa pun dia akan kembali kepada Allah dengan hatinya, sehingga Allah menjadi tempat mengadu dan tempat kembali, kebahagiaan dan kesenangannya, tempat bergantung tatkala senang dan mendapat bencana atau musibah
Membuahkan kedekatan kepada Allah. Seberapa jauh dia melakukan dzikir kepada Allah, maka sejauh itu pula kedekatannya kepada Allah, dan seberapa jauh ia lalai melakukan dzikir, maka sejauh itu jarak yang memisahkannya dengan Allah
Membukakan pintu yang lebar dari berbagai pintu ma'rifat [1]. Semakin banyak dia berdzikir, maka semakin lebar pintu ma'rifat yang terbuka baginya
Menumbuhkan rasa takut kepada Allah dan memuliakan-Nya
Membuatnya selalu ingat Allah, sebagaimana Allah berfirman yang artinya "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu .." (Al-Baqarah: 152)
Membuat hati menjadi hidup. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata "Dzikir bagi hati sama dengan air bagi ikan, maka bagaimana keadaan yang akan terjadi pada ikan seandainya ia berpisah dengan air?"
Dzikir merupakan santapan hati dan ruh. Jika hati dan ruh kehilangan santapannya, maka sama dengan badan yang tidak mendapatkan santapannya. Suatu kali kami (Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah) menemui Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang sedang melaksanakan shalat subuh. Seusai shalat ia berdzikir kepada Allah hingga hampir pertengahan siang. Pada saat itu ia menoleh ke arahku seraya berkata "Inilah santapanku. Andaikan aku tidak mendapatkan santapan ini, tentu kekuatanku akan hilang."
Syaikhul Islam juga pernah berkata kepada kami: "Aku tidak akan meninggalkan dzikir, kecuali dengan niat memang itulah yang dikehendaki oleh jiwaku atau karena aku ingin istirahat. Istirahat ini artinya persiapan bagiku untuk melakukan dzikir berikutnya."
Membersihkan hati dari karatnya. Segala sesuatu ada karatnya dan karat hati adalah lalai dan hawa nafsu. Sedangkan untuk membersihkan karat ini adalah dengan taubat dan istighfar
Menghapus kesalahan dan menghilangkannya. Dzikir merupakan kebaikan yang paling agung. Sementara kebaikan dapat menyingkirkan keburukan
Menghilangkan kerisauan dalam hubungan antara dirinya dengan Allah. Orang yang lalai tentu akan dihantui kerisauan antara dirinya dengan Allah, yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan dzikir.
Takbir (Allahu Akbar), tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah) dan tahlil (Laa ilaaha illallah) yang diucapkan hamba saat berdzikir akan mengingatkannya saat dia ditimpa kesulitan
Hamba yang mengenal Allah swt dengan cara berdzikir di saat lapang, menjadikan dirinya tetap mengenal-Nya saat menghadapi kesulitan, dan Dia akan mengenalnya di saat ia mengalami kesulitan
Berdzikir kepada Allah merupakan benteng yang kokoh dari keburukan dunia dan akhirat, serta menyelamatkan diri dari adzab Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh Muadz bin Jabal radhiallahu'anhu "Tidak ada amal yang dilakukan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari adzab Allah, selain dari dzikir kepada-Nya" (Hadits Shahih, HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Menyebabkan turunnya ketenangan, datangnya rahmat dan para malaikat mengelilingi orang yang berdzikir, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw (HR. Muslim dan selainnya)
Dzikir menyibukkan lisan agar tidak melakukan ghibah, adu domba, dusta, kekejian dan kebathilan.
Sudah selayaknya bagi seorang hamba ketika berbicara atau berkata, hendaknya berkata yang baik atau diam. Ia harus menjauhkan ghibah (membicarakan aib orang lain), dusta (bohong), menghasut, berkata-kata yang keji, memfitnah, dan hal-hal yang diharamkan Allah. Oleh karena itu dia harus membersihkan lisannya dengan banyak berdzikir.
Siapa yang membiasakan lidahnya untuk berdzikir, maka lidahnya lebih terjaga (selamat) dari kebathilan dan perkataan sia-sia. Namun, siapa yang lidahnya tidak pernah mengenal dzikir, maka kebathilan dan kekejian banyak terucap dari lidahnya.
Majelis dzikir merupakan majelis para Malaikat, sedangkan majelis kelalaian dan permainan merupakan majelis syaitan. Hendaklah seorang hamba memilih, mana yang lebih dia sukai dan yang lebih dia prioritaskan (utamakan). Karena dengan begitulah dia akan menentukan tempat di dunia dan di akhirat.
Malaikat akan selalu memintakan ampunan kepada Allah bagi orang-orang yang berdzikir. Dan banyak berdzikir membuat seseorang terhindar dari sifat nifaq
Dengan berdzikir kepada Allah, maka pelakunya akan merasa bahagia, begitu pula dengan orang yang dekat dengannya. Dialah orang yang senantiasa mendapatkan keberkahan. Tetapi orang yang lalai, dia akan senantiasa gundah karena kelalaiannya, begitu pula orang yang dekat dengannya
Dzikir memberikan rasa aman dari penyesalan di hari Kiamat karena majelis yang di dalamnya tidak terdapat dzikir kepada Allah akan menjadi penyesalan pada hari Kiamat
Berdzikir kepada Allah sambil meneteskan air mata dikala sendiri akan menjadi perlindungan bagi pelakunya dari panasnya matahari di padang Mahsyar pada hari Kiamat karena dia dilindungi oleh 'Arsy Allah. Sementara orang lain yang tidak berdzikir kepada Allah akan tersengat oleh panasnya matahari pada saat itu
Dzikir merupakan ibadah yang paling mudah, namun paling agung dan paling utama. Sebab, gerakan lidah merupakan gerakan anggota badan yang paling ringan dan paling mudah.
Dzikir merupakan tanaman Surga, sebagaimana yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadits 'Abdullah bin Mas'ud, dia berkata: "Rasulullah saw bersabda: 'Pada malam aku diisra'kan, aku bertemu Ibrahim Al-Khalil, seraya berkata kepadaku: 'Hai Muhammad, sampaikanlah salamku kepada ummatmu dan beritahukanlah kepada mereka bahwa Surga itu bagus tanahnya, segar airnya, dan bahwa Surga itu merupakan kebun, sedangkan tanamannya adalah
سبحان الله , والحمد لله ,ولا اله الا الله , والله اكبر
"Mahasuci Allah, segala puji milik-Nya, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan Allah maha besar." (Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahihah no.105). Menurut At-Tirmidzi, hadits ini hasan gharib.
Dia juga meriwayatkan dari Abu Az-Zubair dari Jabir dari Nabi saw beliau bersabda: "Barangsiapa mengucapkan
سبحان اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِ
'Mahasuci Allah yang Maha Agung, aku memuji-Nya, maka ditanamkan baginya pohon kurma di Surga." Menurut At-Tirmidzi, hadits ini hasan shahih (Hadits Shahih, Shahih At-Tirmidzi)
Pemberian dan karunia yang dilimpahkan karena dzikir ini tidak pernah dilimpahkan karena amal yang lain. Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mengucapkan
لا اله الا الله وحده لاشريك له , له الملك وله الحمد وهو على كل شئ قدير
'Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu' (sebanyak) seratus kali dalam sehari, maka dia mendapat pahala seperti pahala membebaskan sepuluh budah wanita, ditetapkan baginya seratus kebaikan, dihapuskan darinya seratus keburukan dan hal itu menjadi perlindungan dari syaitan pada hari itu hingga sore hari, dan tidak ada seorangpun yang membawa sesuatu yang lebih baik daripada apa yang dibawa oleh orang itu, kecuali orang yang melakukannya lebih banyak lagi' (HR.Bukhari, Muslim).
Dari Abu Hurairah ra dia berkata "Rasulullah saw bersabda: 'Aku mengucapkan
سبحان الله , والحمد لله , ولا اله الا الله , والله اكبر
Maha suci Allah, segala puji milik-Nya, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan Allah Mahabesar,' lebih kusukai daripada terbitnya matahari" (HR. Muslim, At-Tirmidzi)
Dari Tsauban ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang pada pagi dan sore hari mengucapkan
رضيتُ بالله رباً, وبالإسلام ديناً، وبمحمد صلى الله عليه وسلم نبياً
'Aku ridha kepada Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad saw sebagai Nabiku,' maka ada hak atas Allah untuk meridhainya"(Hasan, At-Tirmidzi).
Rasulullah saw juga bersabda: "Barangsiapa yang masuk pasar seraya mengucapkan
لا اله الا الله وحده لا شريك له , له الملك وله الحمد يحي ويميت وهو حي لا يموت بيده الخير وهو على كل شئ قدير
'Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian, Yang menghidupkan dan mematikan, Dia hidup dan tidak mati, di tangan-Nya segala kebaikan dan Dia Mahaberkuasa atas segala sesuatu',
Maka Allah menetapkan baginya sejuta kebaikan, menghapus sejuta kesalahan dan meninggikan baginya sejuta derajat" (Hasan, HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan yang lainnya)
Terus menerus berdzikir kepada Allah membuat hati seseorang tidak melalaikan Allah, dan lalai mengingat Allah swt adalah sebab penderitaan hamba di dunia dan di akhirat. Siapa saja yang melalaikan Allah swt, maka ia akan lalai terhadap diri dan kemaslahatannya dan ia akan binasa.
Allah swt berfirman yang artinya: "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq" (Al-Hasyr: 19)
"Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, 'Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah orang yang melihat? Allah berfirman: 'Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan" (Thaahaa:124-126).
Artinya, engkau dilupakan dalam kubangan adzab, sebagaimana engkau melupakan ayat-ayat-Ku dan tidak mau mengamalkannya. Berpaling dari mengingat Allah juga membuatnya berpaling dari ingat apa yang diturunkan-Nya atau mengingat apa yang diturunkan Allah di dalam Kitab-Nya. Akibatnya lebih lanjut, dia lupa terhadap hal-hal yang telah disebutkan Allah dalam Kitab-Nya, lupa terhadap Asma'-Nya, sifat-sifat, perintah, anugrah dan nikmat-nikmat-Nya. Ini semua sebagai akibat berpaling dari Kitab Allah. Dengan kata lain, "Siapa yang berpaling dari Kitab-Ku, tidak mau membacanya, tidak mendalaminya, tidak memahaminya dan tidak mengamalkannya, maka hidup dan kehidupannya akan menjadi sempit dan dia akan senantiasa tersiksa" Hal ini berbeda dengan orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Kehidupan mereka di dunia merupakan kehidupan yang sangat menyenangkan, dan di akhirat mereka mendapatkan pahala.
Allah berfirman yang artinya: "Barangsiapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (An-Nahl: 97)
"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai pada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat" (Huud:3).
"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Rabb kalian'. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas" (Az-Zumar:10)
Dzikir senantiasa menyertai hamba sekalipun dia berada di tempat tidur, di pasar, saat sehat, saat sakit, saat mendapat kenikmatan dan kesenangan, saat menderita dan mendapat cobaan, bahkan dzikir itu menyertai hamba pada setiap saat.
Dzikir merupakan cahaya bagi orang yang berdzikir di dunia, cahaya baginya di kuburan, cahaya baginya di tempat kembalinya, menerangi saat berlalu di atas Ash-Shirath, dan tidak ada yang bisa menyinari kubur dan hati melainkan hanya dengan berdzikir kepada Allah. Allah swt berfirman yang artinya "Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang mereka kerjakan" (Al-An'aam:122)
Dzikir merupakan pangkal landasan jalan manusia secara umum dan kecintaan yang ditebarkan. Siapa yang dibukakan jalan baginya untuk melakukan dzikir, berarti telah dibukakan jalan untuk menuju Allah.
Di dalam hati ada suatu celah yang sama sekali tidak bisa disumbat kecuali dengan dzikir. Jika dzikir merupakan semboyan hati dan ia juga mengingatkan jalan yang seharusnya ditempuh, maka inilah dzikir yang disebut dengan dzikir yang dapat menutupi celah, sehingga manusia menjadi kaya bukan karena harta, terpandang bukan karena keturunan, dan disegani bukan karena kekuasaan. Namun, jika ia lalai berdzikir kepada Allah, maka keadaannya menjadi sebaliknya, ia miskin sekalipun hartanya banyak, hina sekalipun memegang kekuasaan, dan tidak dipandang sekalipun keluarganya mapan.
Dzikir dapat menghimpun yang bercerai berai dan menceraiberaikan yang terhimpun, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Apa yang tercerai berai dalam hati hamba dapat dihimpun, seperti kehendak dan hasratnya. Siksaan yang paling pedih ialah jika apa yang ada di dalam hatinya itu tercerai berai. Hatinya hidup dan merasakan kenikmatan jika kehendak dan hasrat hatinya berhimpun menjadi satu
Dzikir menggugah hati dari keadaan yang selalu tidur dan membangunkannya dari keadaan yang selalu mengantuk. Jika hati selalu tidur dan mengantuk, maka ia kehilangan sekian banyak keuntungan, yang berarti akan mengalami kerugian. Jika ia tersadar dan menyadari apa yang lolos dari tangannya selama tidur itu, maka dia akan merasa sangat menyesal, lalu berusaha menghidupkan sisa umurnya dan mencari apa yang lolos dari tangannya. Tidak ada yang bisa membangkitkan dirinya dari keadaannya kecuali dzikir. Sesungguhnya kelalaian itu merupakan tidur yang nyenyak
Dzikir yang intinya tauhid merupakan sebatang pohon yang membuahkan pengetahuan dan keadaan yang dapat dilalui oleh orang-orang yang menuju kepada Allah. Tidak ada cara untuk mendapatkan buahnya kecuali dari pohon dzikir. Jika pohon itu semakin besar dan akarnya kokoh, maka ia akan banyak menghasilkan buah
Orang yang berdzikir (mengingat Allah) senantiasa merasa dekat dengan-Nya dan Allah bersamanya. Kebersamaan ini bersifat khusus, bukan kebersamaan karena bersanding, tetapi kebersamaan karena kedekatan, cinta, pertolongan dan taufiq.
Allah berfirman yang artinya:
"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa..."(An-Nahl:128)
"...Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah:249)
"...Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat kebajikan" (Al-'Ankabuut: 69)
"Janganlah engkau bersedih hati, karena sesungguhnya Allah beserta kita." (At-Taubah: 40).
Karena kebersamaan ini, orang yang melakukan dzikir mendapatkan bagian yang melimpah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits qudsi: "Aku bersama hamba-Ku selagi dia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak karena Aku"(Hadits Shahih, HR. Ibnu Majah, Ahmad, Al-Hakim, Ibnu Hibban)
Sesungguhnya di dalam hati itu ada kekerasan yang tidak bisa dicairkan kecuali dengan berdzikir kepada Allah. Maka, kekerasan hati seorang hamba harus diobati dengan berdzikir kepada-Nya.
Dzikir merupakan penyembuh dan obat penyakit hati. Hati yang sakit hanya bisa disembuhkan dengan berdzikir kepada Allah. Imam Makhul berkata: "Mengingat Allah itu merupakan kesembuhan dan mengingat manusia itu merupakan penyakit"
Dzikir mendatangkan shalawat Allah dan para Malaikat-Nya. Siapa yang mendapatkan shalawat Allah dan para malaikat, maka dia adalah orang yang sangat beruntung.
Allah berfirman yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut Nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dia-lah yang memberi shalawat kepadamu dan Malaikat-Nya (memohon ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkanmu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman" (Al-Ahzab: 41-43).
Shalawat dari Allah dan para Malaikat-Nya ini merupakan sebab untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya
Dzikir kepada Allah dapat memudahkan kesulitan dan dapat meringankan beban yang berat. Kesulitan itu akan menjadi mudah, tatkala seseorang berdzikir dengan menyebut Nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi sesuai dengan syariat, maka yang berat dan yang sulit akan menjadi ringan dan mudah
Dzikir kepada Allah menyingkirkan segala ketakutan di dalam hati sehingga mendatangkan perasaan aman bagi hati. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi orang yang takut kecuali dengan berdzikir kepada Allah, maka dengan dzikir akan hilang ketakutan itu.
Sesungguhnya dzikir kepada Allah akan memberikan kekuatan bagi orang yang berdzikir, sehingga seakan-akan dengan dzikir itu dia mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang berat tanpa disangka-sangkanya. Rasulullah saw pernah mengajari putrinya, Fathimah dan 'Ali bin Abi Thalib agar mereka bertasbih sebanyak 33 kali pada saat malam tatkala beranjak tidur, bertahmid 33 kali dan bertakbir 34 kali, tepatnya ketika Fathimah meminta seorang pembantu untuk membantu pekerjaannya dan mengadukan pekerjaannya yang berat, karena harus menjalankan alat penggiling dan melaksanakan berbagai macam pekerjaan rumah tangga. Dan Rasulullah saw bersabda: "Yang demikian itu lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang hamba/pelayan" (HR.Bukhari, Muslim)
Dzikir adalah pangkal syukur. Orang yang tidak berdzikir adalah orang yang tidak bersyukur kepada Allah. Dzikir dan syukur adalah paduan kebahagiaan dan kejayaan. Allah swt menghimpun antara dzikir dan syukur dalam firman-Nya yang artinya: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku" (Al-Baqarah:152)
Termasuk dzikir kepada Allah; melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan melaksanakan hukum-hukum-Nya
Diringkas dengan sedikit perubahan dari kitab Shahih Al-Waabilish Shayib minal Kalimith Thayyib. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah tahqiq Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali.
Sumber: Do'a dan Wirid, Mengobati Guna-guna dan Sihir Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah karya Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, cetakan Pustaka Imam Syafi'i
**************
[1] Ma'rifat diperoleh dengan cara:
1. Belajar Al-Qur'an dan As-Sunnah menurut pemahaman sahabat
2. Mengamalkan yang wajib, sunnah dan menjauhkan yang dilarang
3. Ikhlas dalam beramal
4. Ittiba (mengikuti) kepada Rasulullah saw
5. Selalu berdzikir kepada Allah swt
Selengkapnya...
Rabu, 13 Oktober 2010
Pelajaran Dari Semut
Oleh Mira Kania Dewi
Tentu sudah tak asing lagi membaca dan mendengar sebuah peribahasa yang menyebutkan ‘ada gula ada semut’. Nah, kali ini aku bukan hendak mengartikan peribahasa ini secara tersirat tetapi lebih kepada artinya yang tersurat. Memang sudah lazim kalo semut suka yang manis-manis. Jadi sudah tak heran lagi jika ada makanan manis yang langsung dirubung oleh semut.
Tapi semut jaman dulu rasanya berbeda dengan semut jaman sekarang. Apalagi semut-semut di daerah perkotaan seperti Jakarta. Kelihatannya semut-semut ini sangat kelaparan. Mereka selain suka yang manis-manis juga menyukai hampir semua jenis makanan yang kita makan. Terkadang kita dibuatnya kesal. Padahal hal yang dilakukan semut–semut itu adalah akibat dari terdesaknya lahan mereka yang banyak diserobot oleh manusia di kota. Salah siapa?
Aku jadi teringat sebuah kejadian di bulan Ramadhan yang baru saja kita lewati bersama. Selepas menunaikan sholat tarawih aku sering membawa makanan kecil yang belum sempat aku makan saat berbuka puasa ke dalam kamarku.
Kuletakkan makanan itu di atas meja karena aku berniat memakannya beberapa menit kemudian. “Rebahan dulu deh,” pikirku sejenak. Namun rasa kantuk yang merajalela membuat aku langsung terlelap dan melupakan makanan yang kutaruh di atas meja.
Saat waktu sahur tiba, kulirik piring makananku. Wah, semut-semut hitam sedang asyik berpesta pora melahap makanan yang belum sempat aku sentuh tadi malam. Yah, beginilah jadinya kalau ketiduran.
Rupanya kebiasaan membawa makanan ke kamar terus berlanjut keesokan harinya. Tapi kali ini tekadku lebih kuat untuk langsung menyantap kue-kue sebelum diserobot oleh para semut. Tapi apa daya, lagi-lagi kantukku mengalahkan nafsu makanku. Alhasil, pasrah sudah jika sahur tiba menemukan piring makananku penuh dirubung segerombolan semut yang sedang lapar. Yah, alamat dimakan semut lagi deh! Pikirku kemudian.
Ternyata prasangkaku keliru. Makananku tetap bersih, tak ada seekorpun semut yang datang menghampiri piringku. Lho, kenapa bisa begitu ya? Aku terheran-heran bercampur rasa gembira melihat makananku utuh dan bersih.
Aku berusaha mencari jawaban mengapa kali ini semut-semut tak bernafsu melahap makananku. Astagfirullohal’adziim!! Apa yang telah aku lakukan? Keherananku terjawab sudah. Rupanya, karena mengantuk aku telah lalai meletakkan piring makananku di atas sebuah kitab suci Al-Qur’anul Karim!
Aku jadi teringat dua buah kisah nyata di belahan bumi yang lain tentang kesucian Al-Qur’an yang memang telah dijamin oleh Yang Maha Kuasa.
Begini kisahnya, beberapa tahun silam di Pakistan ditemukan sebuah Al-Qur’an berusia sangat tua yang tidak dimakan oleh rayap. Bagian pinggir/tepi Al-Qur’an memang sudah terkikis habis oleh rayap, namun bagian kertas yang bertuliskan kalam Illahi tetap utuh tak tersentuh gigitan rayap. Sehingga jika dibuka lembar per lembarnya terlihat unik seperti sebuah karya seni bordir yang meliuk-liuk bertuliskan hurup arab. Rayap tak berani menyentuh ayat-ayat yang suci dari Sang Pencipta.
Lain lagi dengan sebuah peristiwa yang menakjubkan tentang terbakarnya sebuah mobil di tepi jalan raya di daerah Timur Tengah. Mobil yang telah berubah menjadi rongsokan itu tidak menyisakan apa-apa. Seluruh bagian mobil hangus terbakar berikut rangka besinya. Namun tak disangka tak diduga di dalamnya ditemukan sebuah Al-Qur’an yang masih tetap utuh tak tersentuh api padahal sekelilingnya sudah berubah menjadi abu. Subhanalloh! ALLOH Hafidz.
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS 15 : 9)
“Qaaf. Demi Al-Qur’an yang sangat mulia.” (QS 50 : 1)
Ah, malunya hati ini jika mengingat kejadian malam itu. Seharusnya aku lebih berhati-hati dalam bertindak. Semut-semut saja tidak berani menaiki Al-Qur’an yang mulia dan suci, sedangkan aku telah sembarangan meletakkan makanan di atas Al-Qur'an. Ampuni aku, yaa Rabb atas kelalaianku. Aku akan berusaha untuk tidak gegabah lagi dalam berindak. Dan satu hal yang ingin aku ucapkan untuk para semut di kamarku. “Terima kasih semut-semut hitam, hari itu kau telah memberiku pelajaran berharga”.
Wallohua’lam bishshowaab
(mkd/bintaro/12.10.10)
Selengkapnya...
Bahagianya Menjadi Muslimah Indonesia Rabu, 13/10/2010 06:51 WIB
Siang itu saya dan suami berada di Burgeramt (Balaikota). Suasana terasa hening sekalipun ada banyak orang di dalam gedung tempat segala sesuatu yang berurusan dengan administrasi kependudukan di Jerman tersebut. Sebagian orang mengantri di loket pengambilan kartu, sebagian lainnya duduk mengisi formulir dan sebagian lagi menunggu giliran nomornya dipanggil. Sambil menanti giliran, saya pun asyik membaca sebuah majalah khusus muslimah yang dibawakan teman dari Indonesia.
Tiba-tiba sebuah salam yang terucap membuat saya menoleh ke sumber suara. Seorang berparas jelita di sebelah kursi saya menyapa dengan senyum. Entschuldigung, woher komen Sie?”, sesaat kemudian ia menanyakan asal saya. “Ich kome aus Indonesien”, jawab saya sambil menutup majalah yang sedang saya baca tadi. “Ach so..., Ich kome aus der Turkei, Ich bin Gulsum, und Sie? Ia lalu menyebutkan asal negara dan nama dirinya sambil mengulurkan tangan. Saya pun menyebutkan nama seraya menyambut jabat tangannya.
Gulsum kemudian meminta ijin melihat majalah yang sedang saya baca. Ia tertarik karena hampir semua lembar majalah tersebut berhias muslimah berjilbab. Terlihat ia menggumam dan bertanya, “Ich habe gehoert viele leute in Indonesien sind muslime, oder?” (saya dengar di Indonesia banyak muslimnya ya?). Saya mengangguk, membenarkan apa yang ditanyakannya. Lalu ia bertanya lagi, “Tragen alle muslime Frauen das Koepftuch?”(apakah semua muslimah di Indonesia mengenakan jilbab). Saya kembali menjawab, “Nicht alle, aber vielle tragen das." (belum semuanya, tapi saat ini sudah sangat banyak yang memakai jilbab). Sesaat kemudian ia bertanya lagi, “Koennen die das Tuch in der Universitaet tragen?" (Apakah ke universitas, diperbolehkan memakainya?). Sejenak saya tatap wajahnya untuk kemudian menjawab rasa penasaran dirinya, “Ja, alhamdulillah, wir sind frei das Tuch irgendwo zu tragen." (Ya, Alhamdulillah, kami bebas mengenakannya ke mana pun)”, ujar saya.
Raut muka Gulsum tampak gembira mendengar jawaban saya, terlihat bibirnya bergerak turut mengucap hamdallah. Namun sesaat setelah itu saya melihat sorot matanya terlihat murung, ia terpekur sambil memandangi lembar demi lembar majalah muslimah itu. Lalu kembali mendongakkan wajahnya dan berkata pada saya, “Es ist sehr froehlich dass indonesische Frauen in der Uni das Kopftuch tragen kann. Wir koennen das nicht tun trotz fast alle leute sind muslime im unseren Land." (bahagianya menjadi muslimah Indonesia, dapat menggunakan jilbab kemana pun termasuk ke kampus. Sementara kami tidak dapat demikian walaupun mayoritas penduduk negeri kami muslim).
Saya terdiam sesaat turut merasakan kesedihan hati Gulsum untuk kemudian saya mencoba menghibur dan mendoakannya bahwa kerinduan ia beserta muslimah Turki lainnya untuk dapat melaksanakan kewajiban menutup aurat di negerinya, suatu saat nanti pasti terwujud.
***
Gulsum kembali menekuri majalah muslimah tersebut, sementara itu saya terpaku pada kata-kata yang dilontarkannya tadi, bahwa alangkah bahagianya menjadi muslimah Indonesia.
Ya, sudah semestinya kami bahagia dengan kondisi kami saat ini. Atas pertolongan Allah dan perjuangan para aktivis dakwah yang tak kenal lelah dalam mensyiarkan Islam di bumi pertiwi, maka kini kami dapat mereguk buah perjuangan mereka, menikmati iklim kebebasan melaksanakan perintah agama di tanah air yang kini memayungi para muslimahnya. Kami leluasa untuk menutup lekuk lekuk tubuh kami dengan busana yang syar'i demikian pula dengan rambut kami.
Hampir di segala sektor pekerjaan, para muslimah di tanah air kini dapat berpartisipasi dengan tetap berbusana sesuai syar'i. Sudah sepatutnya pula kami bersyukur padaNya atas segala kemudahan ini, hal yang mana masih menjadi dambaan para muslimah di belahan bumi lainnya. Tentunya rasa syukur ini harus kami wujudkan dengan berusaha sebaik mungkin menjaga ahlak dan menutup aurat kami sesuai syar'i.
Ya, kami memang bahagia, sesuatu yang tak mungkin kami pungkiri. Tapi tahukah engkau Gulsum, bahwa kami pun pernah merasakan gundah seperti yang kamu rasakan? Bisik hati saya sambil melirik Gulsum yang masik membolak-balik majalah tersebut. Pikiran saya menerawang ke masa ketika para muslimah di Indonesia mengalami kesulitan menjalankan perintah menutup auratnya.
Teringat ketika saya masih duduk di sekolah dasar, hanya satu orang yang mengenakan jilbab yaitu guru yang mengajar agama, itu pun rambut bagian depannya dibiarkan menyembul dan lehernya dibiarkan bebas terlihat. Pakaian seragam bagian atas ibu guru tersebut hanya sampai ke siku lengan demikian pula roknya, hanya sampai lutut. Entahlah mengapa demikian cara ia berbusana, mungkin saat itu seperti halnya di Turki, benar-benar sulit bagi muslimah Indonesia untuk dapat melaksanakan kewajibannya menutup aurat sesuai syar'i.
Menginjak bangku sekolah menengah pertama, saya melihat hanya dua orang yang berjilbab di sekolah tersebut, yakni ibu guru agama dan seorang guru lainnya yang sudah menunaikan ibadah haji. Ibu guru agama saat itu telah menutup aurat sesuai syar'i. Saat mengisi pelajaran di kelas kami, beliau terkadang bercerita bahwa dirinya sering diejek bahkan dilempari batu karena ia berbusana demikian, terlebih lagi ketika marak issue di daerah kami tentang makanan yang diracun muslimah berjilbab. Tapi, walaupun hampir setiap hari beliau mendapat perlakuan yang tidak baik sepanjang jalan menuju atau pulang dari tempatnya mengajar, ia tetap istiqamah menggunakan jilbab. Ketegaran beliau membuat saya kagum padanya.
Saat saya mulai duduk di sekolah menengah atas, dengan berbekal niat karena Allah dan ucapan basmallah, saya akhirnya mengikuti jejak ibu guru agama SMP itu. Ibunda saya sangat khawatir karenanya dan meminta saya untuk menunda niat melaksanakan kewajiban menutup aurat tersebut. Saya memahami kekhawatiran beliau karena pada saat itu keadaan memang belum kondusif bagi muslimah untuk berjilbab.
Terlebih lagi ketika mencari pekerjaan, pada umumnya setiap lowongan yang ada mensyaratkan untuk tidak berjilbab. Namun, saya tetap berusaha meyakinkan beliau dengan mengatakan bahwa di kelas saya tidak sendirian karena ada tiga teman lainnya yang mengenakan jilbab dan masih ada beberapa orang lagi di kelas lainnya. Untuk lebih meyakinkan beliau, maka saya pun bisikkan padanya bahwa ibunda tak perlu khawatir karena Allah akan menjaga siapa pun yang berusaha menjaga agamanya. Ibunda akhirnya mengijinkan sekalipun dengan hati yang gamang, diantara derai air matanya ia mendoakan saya untuk istiqamah dengan putusan yang saya ambil. Saya bersyukur karenanya, di saat banyak orangtua melarang putrinya berjilbab.
Menjelang memasuki dunia kampus saat pendaftaran calon mahasiswa, kami diminta untuk berfoto tanpa jilbab dengan alasan untuk kepentingan identifikasi. Saat itu saya menyaksikan beberapa mahasiswa senior berjuang untuk kami, melakukan negosiasi dengan pihak kampus agar kami tetap diperbolehkan mengenakan jilbab. Sebagian dari mereka, para mahasiswi senior berjilbab itu berkeliling menghampiri kami untuk menguatkan mental kami agar tetap teguh untuk tidak melepas jilbab saat sesi pemotretan.
Belakang hari saya mulai mengetahui mereka yang memperjuangkan kami itu adalah para penggerak dakwah di kampus. Merekalah yang selama ini berjuang agar tak ada kendala lagi bagi para muslimah untuk berjilbab termasuk dalam urusan administrasi. Atas sepak terjang mereka pula, perlahan Islam mewarnai kampus kami.
***
Kini, saat membaca berita tentang kabar baik untuk muslimah di Turki, saya merasa sangat bahagia. Teringat kembali pertemuan dengan Gulsum di Burgeramt siang itu. Saat ini saya berharap Gulsum dan muslimah Turki lainnya sedang sujud syukur dan tersenyum bahagia. Kerinduan mereka untuk dapat menutupi aurat bukan lagi sebuah impian, tapi benar-benar mewujud.
Gulsum, ingin sekali kukatakan padamu bahwa tak hanya muslimah Indonesia yang berbahagia dengan iklim kebebasan menjalankan syariat Islam, tapi engkau dan muslimah Turki lainnya saat ini akan merasakan pula kebahagiaan itu di negerimu sendiri.
Ineu Ratna Utami
Selengkapnya...
Rabu, 15 September 2010
Kelalaian
Namun suara yang diiringi dengan kekhusyuan itu membuatku terdiam sesaat... Aku memutar kembali kaset itu untuk ketiga kalinya..Kita akan dimandikan, dikafani, kemudian diletakkan di liang lahat, di dalam tanah. Nama kita akan segera terlupakan...
"Sampai kapankah kelalaian ini akan terus berlangsung?"
Anak Laki-laki atau Perempuan Sama Saja, Sama-Sama Amanah dari Allah
Oleh Endang TS Amir
Pada zaman dahulu, perempuan dianggap sebagai makhluk yang tidak berharga, sehingga memiliki anak perempuan layaknya aib. Maka dahulu, banyak anak-anak yang terlahir dengan jenis kelamin perempuan dikubur hidup-hidup. Bayangkan, jika hal tersebut berkelanjutan, mungkin proses generasi akan terputus.
Kemudian Islam datang dengan segala kemuliaannya. Islam menyelamatkan perempuan dari segala bentuk kezhaliman dan penindasan, dan mengangkatnya menuju kemuliaan dan sumber kebaikan. Islam mengembalikan kedudukan perempuan sebagai manusia yang sama dengan kaum laki-laki di hadapan Allah. Sama dalam hal perintah untuk mentaatiNya. Sama dalam hal kewajiban masalah peribadatan, yang membedakan hanya pada adanya sebagian hukum yang dikhususkan bagi mereka sesuai fitrah dan tabiat masing-masing.
Zaman sekarang, memiliki anak perempuan menjadi sebuah keinginan. Apalagi kalau belum punya anak perempuan. Bagi para ibu, memiliki anak perempuan menjadi dambaan, katanya biar ada temen jalan-jalan dan ada temen ngobrol.
Kurang lebih 3 minggu yang lalu, seorang teman melahirkan anaknya yang ketiga. Dan ia mengabarkan berita tersebut lewat sms dengan ucapan Alhamdulillah bahwa anaknya telah lahir dengan selamat. Namun ia menyebut “TAPI laki-laki” ketika memberitahu bahwa anaknya yang baru lahir, jenis kelaminnya laki-laki, kebetulan anaknya yang pertama dan kedua laki-laki. Kenapa harus pakai TAPI?
Zaman sekarang, memiliki anak perempuan kadang menjadi obsesi yang berlebihan. Terlebih bagi yang belum punya anak perempuan. Alkisah, aku memiliki teman. Ia ingin sekali memiliki anak perempuan, karena ia sudah punya dua anak laki-laki. Maka, iapun mengikuti sebuah program untuk dapat melahirkan anak dengan jenis kelamin perempuan. Entah sudah berapa banyak rupiah yang harus dikeluarkannya demi obsesinya itu. Entah sudah berapa banyak tenaga dan waktu yang tersita untuk urusan itu.
Tidak salah memang, namanya juga usaha. Tapi, jika pada akhirnya ia hamil, ia memerlukan persiapan yang lebih dibandingkan wanita-wanita lain yang juga hamil. Persiapan mental untuk dapat menerima lapang dada, apapun hasil akhir dari perjuangannya selama ini. Jikalau yang lahir perempuan, pasti ia bahagia, karena inilah obsesinya. Tapi, jika yang lahir ternyata laki-laki? Inilah yang perlu diantisipasi, jangan sampai si anak merasa menjadi anak yang tidak diinginkan. Karena sebesar apapun usahanya, tidak ada jaminan tentang keberhasilannya.
Ia mengatakan bahwa program yang dijalaninya, memiliki tingkat keberhasilan 90%. Artinya jika ada 10 orang yang turut serta program tersebut, maka 9 orang berhasil dengan keinginan masing-masing dan menyisakan 1 orang yang gagal. Pastikah?
Ilmu tentang genetika dan biologi molekuler yang berkembang pesat dan di dukung dengan teknologi yang canggih, tetap saja tidak dapat menandingi KEKUASAAN Allah. Allahlah Sang Penentu. Maka, sebesar dan setinggi apapun usaha kita, keberhasilannya tetap di tangan Allah.
Aku sendiri, saat ini memiliki 3 anak, yang semuanya laki-laki. Ketika aku hamil anak yang ketiga, banyak yang ‘mendo’akan’ agar seandainya lahir, jenis kelaminnya perempuan. Ternyata, anakku yang ketiga laki-laki lagi. Ada yang berkomentar bahwa aku kurang kuat do’a-nya. Ada yang bilang aku kurang banyak shalat hajatnya. Ada yang bertanya,”Pake minta nggak Um?” (maksudnya memohon kepada Allah anak laki-laki atau perempuan)
Dengan yakin aku menjawab, ”Aku minta, tapi mintanya agar anakku lahir dengan selamat dan dipermudah proses melahirkannya. Aku minta supaya anakku terlahir sehat dan sempurna, tapi nggak minta laki-laki atau perempuan.” Jawabku waktu itu. “Kenapa nggak? Memang nggak pengen anak perempuan?” tanyanya lagi
Bukannya tidak ingin anak perempuan. Sejak hamil anak yang pertama, kedua dan ketiga, aku memang tidak pernah mengkhususkan “meminta” agar diberi anak dengan jenis kelamin tertentu. Aku serahkan sepenuhnya kepada kehendakNya. Karena aku meyakini, DIAlah yang paling tahu tentang kapasitas diri ini, dibanding diriku sendiri, maka aku tak hendak ikut campur dalam urusanNya dalam menentukan jenis kelamin anak-anakku. Aku diamanahi 3 anak laki-laki (saat ini), mungkin memang itulah yang pas dan sesuai dengan diriku. Wallahu’alam.
Karenanya, apapun jenis kelamin anak-anak kita, sama saja, sama-sama amanah dari Allah. Sama-sama wajib kita didik menjadi anak-anak yang taat kepada Allah. Yang beda hanya cara mendidiknya karena harus disesuaikan dengan fitrah dan tabiat mereka masing-masing. Maka, syukurilah apapun yang Allah berikan kepada kita. Ini akan lebih menentramkan batin. Insya Allah. Tidak salah memang memiliki keinginan. Sah-sah saja memiliki harapan. Asal jangan sampai keinginan dan harapan yang tidak tercapai, mengoyak keimanan kita kepada Allah.
Wallahu’alam.
Selengkapnya...
Lihat Daftar Isi !


